Anda harus mengaktifkan JavaScript untuk menggunakan tema ini.

PERAYAAN RAHINA TUMPEK WAYANG PEMERINTAH DESA JATILUWIH

Admin 10 Oktober 2026 Dibaca 15 Kali
PERAYAAN RAHINA TUMPEK WAYANG PEMERINTAH DESA JATILUWIH

Jatiluwih,10 Oktober 2026, Bertempat di Padmasana Kantor desa Jatiluwih,Pemerintah Desa Jatiluwih melaksanakan kegiatan persembahyang bersama dalam rangka peringatan rahina Tumpek Wayang rahina Saniscara Kliwon wuku Wayang.

Acara dihadiri oleh Perbekel bersama Perangkat Desa dan Staf Desa Jatiluwih yang dipuput oleh Jro Mangku Istri Luhur Pucak Petali.

Tumpek Wayang adalah hari suci yang datang setiap 6 bulan sekali. Pada hari ini (Tumpek Wayang) adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macam benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.

Dikatakan keramat karena orang tua dahulu akan melarang anak-anaknya untuk berkeliaran ke luar rumah sejak sehari sebelum Tumpek Wayang (penyalukan atau kalapasa) ini dikarenakan adanya sebuah mitos di Bali dan memang termuat dalam lontar Kala Tattwa menyebutkan jika seorang anak yang lahir tepat pada wuku wayang khususnya pada hari sabtu wuku wayang, maka akan menjadi santapan (tetadahan) Bhuta Kala.

Hari Tumpek Wayang sebagai hari suci yang mengarah pada peruwatan atau pesucian bagi kelahiran di wuku wayang. Jika ia terlahir di wuku wayang bakal ada pertunjukan wayang yang dinamakan wayang sapuh Leger. Menurut beberapa nara sumber, Kata sapuh memiliki arti peruwatan, leger memiliki arti mala atau kotoran yang ada pada diri manusia itu sendiri. Jadi kata “sapuh leger” berarti pembersihan atau peruwatan kotoran atau mala secara niskala yang dibawa dari lahir oleh orang yang lahir di wuku wayang tersebut. Untuk Wuku wayang itu sendiri terdiri dari 7 hari dalam seminggu penuh, diawali dari hari Minggu sampai hari Sabtu, dimana di hari Sabtunya dirayakan sebagai hari Tumpek Wayang.

Saat hari suci Tumpek Wayang, umat hindu juga akan melakukan ritual keagamaan dengan sarana yang disebut Banten.  Ada beberapa sarana atau Banten seperti Banten Pejati, Biakaon, Tebasan, Peras, Pengambean, Dapetan dan lainnya. Setiap ritual yang dilaksanakan, ditutup dengan Segehan, riilnya Kala Tumpek Wayang memakai caru pandan wong/pandan berduri, segehan manca warna (lima warna).

Sehari menjelang Tumpek Wayang, Jumat/ Sukra Wuku Wayang umat Hindu Se-Bali melaksanakan ritual Meseselat. Meseselat (memasang seselat) berserana pandan berduri atau tumbuhan lainnya yang berduri dengan makna agar terlindungi oleh segala kekuatan jahat. Pada umumnya, seselat ditaruh di Sanggah dan setiap pelinggih yang ada dirumah (Penunggun karang, sumur, pelangkiran, dan lain-lain). Setelah banten seselat dibuat pada hari Jumat Wayang, lalu ditaruh di depan setiap palinggih di merajan dan di sumur. Besoknya pagi-pagi sekali pada hari Sabtu Wayang yang dikenal dengan nama Tumpek Wayang, semua seselat yang telah diletakkan hari Jumat kemarin, lalu dikumpulkan dan ditaruh di lebuh rumah. Ritual ini disesuaikan menurut tradisi dari masing-masing umat.

 

Beri Komentar

Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA
Transparansi Publik

Anggaran Desa

Keterbukaan pengelolaan keuangan untuk masyarakat

0% Realisasi

APBDes 2026 Pelaksanaan

Rp 0,00 Rp 0,00
0% Realisasi

APBDes 2026 Pendapatan

Rp 0,00 Rp 0,00
0% Realisasi

APBDes 2026 Pembelanjaan

Rp 0,00 Rp 0,00